Breaking News

Di Kabinet, Rizal Ramli Bisa Wakili Gerindra dan Ekonom Anti Neolib


Mata Angin - Kondisi ekonomi harus menjadi fokus pembenahan Presiden Joko Widodo di periode kedua. Sebab, di periode pertama dia menjabat, ekonomi Indonesia tidak menunjukkan pertumbuhan yang berarti.

Pertumbuhan ekonomi selalu mentok di angka 5 persen, jauh dari target janji kampanye Jokowi tahun 2014 lalu yang ingin 7 persen.

Bahkan kini, para analis ekonomi memprediksi ekonomi Indonesia bakal nyungsep ke angka 4 persen.

Untuk itu, pengamat politik, Ray Rangkuti meminta Jokowi menguras pikirannya untuk membuat ekonomi menjadi lebih baik dan bisa melanjutkan pembangunan.

“Perhatian Jokowi soal ekonomi yang lebih baik saja, sehingga ada duitnya untuk pembangunan,” ujarnya sesaat lalu, Kamis (17/10).

Menurutnya, harus ada tokoh yang memiliki gebrakan ekonomi masuk dalam kabinet. Tokoh tersebut tidak lagi menggantungkan ekonomi Indonesia pada utang.

Salah satu tokoh yang disebutnya mampu membuat ekonomi Indonesia tidak begini-begini saja adalah Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, DR Rizal Ramli.

Rizal Ramli layak dipertimbangkan agar ekonomi kita tidak lagi berbasis neoliberalisme. Selain itu, RR punya jurus-jurus mumpuni dalam mencari cara keluar dari krisis. Dia tidak text book, sehingga ada peluang ekonomi tidak terdikte dan mampu tumbuh lebih pesat.

“Dia (RR) juga punya riwayat panjang mengelola ekonomi, cukup berhasil kan waktu itu,” tegas direktur Lingkar Madani (Lima) Indonesia itu.

Kehadiran RR di kabinet, sambungnya, bisa menjadi wakil dari kelompok Gerindra. Apalagi saat pilpres lalu, mantan Menko Kemaritiman itu adalah think tank utama Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

RR juga diyakini bisa mewujudkan cita-cita Prabowo yang ingin ekonomi melesat hingga dua digit.

Selain jadi wakil Gerindra, kehadiran Rizal Ramli turut menjadi wakil para ekonom yang tidak setuju dengan sistem ekonomi neoliberal yang bersandarkan pada utang seperti saat ini.   

“Dia bisa mewakili Gerindra, juga mewakili ekonom-ekonom anti neoliberal,” tutup Ray Rangkuti. [rm]

loading...

Tidak ada komentar