Breaking News

PAN DIY Tetap Ingin Beroposisi, Ancam Hengkang Jika Gabung Jokowi



Mata Angin - Pernyataan Wakil Ketua Umum PAN, Viva Yoga Mauladi, yang menyebut mayoritas pengurus wilayah menghendaki PAN bersama pemerintahan Jokowi mendapat respons keras dari Yogyakarta.

Kritik keras disuarakan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PAN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Nazaruddin. Ia menyebut PAN akan mendapatkan label pengkhianat bila memutuskan bergabung dengan Jokowi.

"PAN akan dicap pengkhianat oleh para pendukungnya kalau menjadi bagian dari rezim Jokowi," ujar Nazaruddin.

Tak hanya akan dicap sebagai pengkhianat, kata Nazaruddin, PAN juga akan ditinggalkan pendukung dan kadarnya di daerah karena kecewa dengan manuver DPP. "Mereka sudah mengancam akan meninggalkan PAN," lanjutnya.

Nazaruddin pun meminta pengurus pusat PAN berhenti mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Ia yakin statement Viva bukanlah pernyataan resmi organisasi melainkan pernyataan pribadi yang bersangkutan.

"Itu yang kita kritik, sebaiknya pengurus DPP itu tidak mengeluarkan statement-statement ke publik yang provokatif seperti itu, yang itu sebenarnya hanyalah keinginan-keinginan dari pribadi-pribadi," tegas Nazaruddin.

"Saya hanya menilai itu (pernyataan Viva) sebagai bagian dari provokasi, cuma manuver-manuver dari oknum-oknum DPP yang memang nafsunya untuk bergabung ke Jokowi sudah sedemikian kuat," sambungnya.

DPW PAN DIY, lanjut Nazaruddin, yakin statement Viva ilegal dan bukan mewakili organisasi. Sebeb merujuk aturan organisasi setiap keputusan partai seharusnya diputuskan melalui Rakyat Kerja Nasional (Rakernas).

"Bahkan Sekjen kemarin sudah mengatakan bahwa sikap PAN akan disampaikan di Rakernas. Nah, kalau ada suara-suara seperti itu ya jelas manuver, itu ilegal," tuding Nazaruddin.

Berbeda dengan Viva, Nazaruddin mengklaim kader di daerah termasuk DIY mayoritas menghendaki PAN berada di luar pemerintahan Jokowi. Untuk itu ia mendorong PAN agar tetap berada di barisan oposisi.

"Kita memberikan masukan begitu (PAN sebaiknya di barisan oposisi), karena kita berpendapat bahwa dalam kondisi dinamika politik, konfigurasi politik yang sekarang ini PAN lebih tepat posisinya itu di oposisi," tutur Nazaruddin.

"Keuntungan PAN akan lebih banyak kalau sebagai oposisi. Panggung sebagai oposisi jauh lebih luas dibandingkan hanya mendapatkan satu kursi (menteri), tapi PAN tidak bebas menyuarakan aspirasi rakyat," pungkas dia. [dtk]

loading...

Tidak ada komentar