Breaking News

Hanya Takut pada Allah


Oleh M Rizal Fadillah 


Merenung sesaat, bertafakur apa yang pernah diucapkan oleh Ketua Hakim MK bapak Usman soal takut kepada Allah seolah-olah deklarasi kepada rakyat khususnya umat Islam bahwa tidak satupun kekuatan yang  bisa mempengaruhi persidangan, tidak seorangpun bisa merayu, tidak selembar uangpun bisa menggugurkan prinsip melainkan "hanya takut kepada Allah". Persidangan ini bukan hanya disaksikan mata dunia tapi dilihat oleh Allah. Luar biasa komitmen Hakim yang langka begini. 

Namun tidak lama kemudian di medsos muncul foto yang bersangkutan berlatar belakang mobil mewah miliknya. Lalu muncul lagi rumah mewah konon rumahnya. Ya tidak ada yang salah, mungkin hasil tabungan rezeki halalnya, kok.

Akan tetapi dalam renungan muncul lagi fikiran negatif dengan tampilan hedonis seperti itu "jangan-jangan..." Ah segera dibuang fikiran buruk itu.  Dia kan pemberani, hanya takut kepada Allah. Buktinya berani bermain gendang. Jiwa seni menunjukkan kehalusan bathin. 

Meskipun ternyata kemudiannya baru tahu  itu adalah sinyal gendang perang melawan nurani keadilan. 

Lalu bapak Ketua MK ini memimpin pasukan 9 "pendekar" yang memutuskan dengan pertimbangan "berani" yang mengesankan pasangan 01 itu bebas dari kecurangan dan pasangan 02 mengada-ada dalam memohon kepada Majelis "Yang Mulia". Majelis yang keluar masuk dihormat dengan "hadirin dimohon berdiri"  itu. 

Seolah berkata berani-beraninya memohon dengan petitum ini dan itu. Rasakan nih ketukan palu godam  "Menolak permohonan Pemohon seluruhnya..!". Dingin tanpa rasa. Tak  penting  akan rasa aneh, kecewa, marah masyarakat. Rakyat mau ngoceh atau mengkritik apapun masa bodoh.  Saya hanya takut kepada Allah..! 
Hebat Yang Mulia.

Presiden, Menteri, Hakim, Panglima, Kapolri, anggota Dewan adalah jabatan-jabatan "mulia". Rakyat sangat memahami akan posisi terhormatnya. Oleh karenanya sumpah jabatan dimaksudkan untuk menjaga kehormatan itu. Godaan runtuhnya martabat  sangat besar.  

Kini wibawa MK merosot oleh cara menangani kasus sengketa Pilpres. Ketidakadilan, kepalsuan, dan keangkuhan bergantian  dibacakan dan  dipertontonkan hingga puncaknya putusan Ketua yang "takut hanya pada Allah" bapak Usman. Tok tok tok lalu hadirin berdiri mengantar Majelis Yang Mulia keluar ruangan.

Sungguh final pertunjukan. Tak bisa ada upaya hukum lagi. Putusan yang jika semena mena pun harus diterima. Tak ada pengawasan lembaga eksternal. Sangat super body. Mahkamah Agung saja yang merupakan puncak institusi peradilan masih bisa diawasi oleh Komisi Yudisial. 

Akhirnya rakyat penilai dan pengawas. Ujung pengawasan adalah Allah SWT.

Kini dengan logika hukum "argumentum a contrario" nampaknya kalimat hanya takut pada Allah itu maknanya adalah berani pada selain Allah. Bisa berani dikecam masyarakat, berani disebut otoriter, berani dilobi, berani deal deal an, bisa juga berani terima uang. Ya serba berani. Logika lain tentu lain lagi pula artinya. Multi tafsir. 

Entah dimana dan sedang apa kesembilan "pendekar" tersebut saat ini. Moga tidak sedang bereforia di lembah ketidakadilan. Menari di atas Putusan dahsyat bahwa pilpres ini bersih, suci dan putih tanpa noda dan kecurangan. 

Sebagian rakyat sedang marah dan mengutuk bahkan ada yang berdoa akan adzab Allah. 
Naudzu billah. 

Bandung, 29 Juni 2019 [glr]

loading...

Tidak ada komentar